Category Archives: Perenungan

Ibu Tua Di Pinggir Jalan (Based on A True Story)

Siang itu, matahari begitu terik dan mengeringkan semua yang menyertai dibawahnya. Semakin siang keluh dan peluh menyambut mereka yang berjalan di bawah sang matahari. Semakin panas, semakin ku kebut laju kendaraan hingga sampai tempat tujuan. Jalan semakin padat di sekitar Bundaran Kali Banteng Semarang.

Kulihat warna lampu lalin berwarna merah diatas, itu berarti semua yang berjalan harus berhenti di belakang garis marka, begitu kata sambutan di pinggir jalan. Beberapa hasta dari tempatku berhenti kuperhatikan sesuatu percakapan yang membuatku ingat selamanya hingga hari ini. Seorang ibu yang mungkin berusia sekitar setengah abad sedang berdiri di pembatas tengah jalan Siliwangi, bersama di sisi kanan dan kirinya ada seorang gadis muda yang beranjak dewasa dan seorang lelaki kecil belum baligh yang mengandeng tangan sang ibu Perdalam Coretan

Belajar dari tokoh Gareng

Gareng, adalah salah seorang tokoh wayang punakawan mempunyai nama asli Bambang Sukadadi yang merupakan tetua dari ketiga putra Semar yang lainnya (Petruk dan Bagong). Wataknya yang sopan dan halus dalam bertindak menjadikan Gareng menjadi tokoh yang dihargai. Gareng di berikan amanah menjadi seorang penasehat para Pandawa.

Gareng mempunyai tubuh yang tidak sempurna, wajahnya jelek dan matanya juling. Gareng mempunyai watak yang selalu bergembira mengeluarkan aura yang positif. Dalam setiap lakon pewayangan, Gareng selalu menjadi penengah ketika adik-adiknya salah paham. Bahkan Gareng pernah menyelamatkan Petruk, ketika Petruk lupa setelah menjadi raja.

Gareng, mempunyai nama lain yaitu Nala Gareng yang berarti kering, hatinya yeng kering dengan godaan nafsu dunia. Atau Pancalpamor yang berarti menolak terjerumus keduniaan Perdalam Coretan

Sinopsis Film : Lake House (How do you hold on to someone you’ve never met)

Sebuah film romance yang menarik untuk dilihat, tentang bagaimana saya atau anda mempertahankan seseorang yang belum pernah bertemu sebelumnya? Aneh bukan. Bagaimana cara seseorang yang menjaga perasaan untuk hadirnya seseorang yang ia tunggu sekian lama yang belum sama sekali bertemu, dan akhirnya bertemu dengan cara yang luar biasa..hmm menarik sekali rasanya.

Lake House Disutradarai oleh Alejandro Agresti , dan dibintangi oleh Keanu Reeves dan Sandra Bullock sebagai Alex Wyler dan Kate Forster, masing-masing hidup dalam sebuah keadaan yang berbeda dimana Alex si arsitek hidup pada tahun 2004 dan sementara Kate seorang dokter berada di tahun 2006.

Kedua bertemu melalui sebuah kotak surat “aneh” di rumah dekat danau, dimana mereka berdua tinggal di tempat yang sama namun terpisah oleh waktu (Alex di tahun 2004 dan Kate di tahun 2006). Awal kisah pada tahun 2006, Kate mengunjungi Lake House (rumah kate sendiri) untuk menenangkan diri setelah seorang pria mati dalam pelukannya karena dihantam oleh bus tanpa ia bisa menolongnya. Ketika itu, Kate memasukan sebuah surat (pesan) untuk penghuni baru yang akan menempati rumah tersebut. Perdalam Coretan

4 Rakaat (based on a true story)

Suatu ketika, perhelatan saya di hentikan oleh dengungan adzan di Masjid Agung Jateng. Kemudian kakiku beranjak turun ketempat wudhu. Saat itu, kuperhatikan seorang anak kecil mungkin umurnya sekitar 4 atau 5 tahun yang sedang wudhu, sedangkan sang ayah wudhu di samping anak tersebut agak kejahuan.

Kemudian anak itu bertanya : “Papat rakaat,pak?”
Sang ayah menjawab : ” Iyo, papat rakaat”

Sambil saya tersenyum melihat keganjilan tingkah polah anak tersebut. Dia mulai menghitung : “Siji, loro, telu, papat.” Dibasuhlah tangannya.
“Siji, loro, telu, papat. ” Berkumurlah dia.
“Siji, loro, telu, papat. ” Begitu seterusnya hingga sampai membasuh muka.
Kemudian sang ayah menghentikan wudhunya dan berkata :
” Ehh, dudu koyo ngono. Nek wudhu yo ping telu telu.”
“Ping telu?” Tanya anak tersebut
“Iyo, sing papat rekaat iku mengko sholat dzuhure.”

Akhirnya dengan senyuman, anak tersebut mengulang wudhunya..

Hee-e, true story ini mengajarkan bahwa potensi seorang anak, siapapun itu, adalah memiliki kemampuan penalaran yang luar biasa. Hanya bagaimana anda, saya, dan siapapun kita yang disebut seorang dewasa haruslah memberikan penalaran yang baik.

Srikandi, wanita perkasa lainnya.

“Jaman disik iseh cilik di jodohke,
Wedi dadi prawan kasep alesane,
Neng saiki jamane wis tambah maju,
Lanang wadon padha sregep ngoyak ilmu,
Jaman disik wong wadon sabane pawon..
Pengen yekel buku wae ora klakon,
Neng saiki jamane wis mardika,
Lanang wadon drajate wis padha,
Mbak Erna, dadi sarjana muda,
Mbak Nur,lulus titel insiyur,
Mbak Yuni, teges dadi ABri,
Mujudake cita-cita Kartini”

Itulah sepengal lagu yang berjudul padha Pintere yang dilagukan oleh Didi Kempot. Bukan tanpa arti, namun mengandung segenggam kisah yang menarik. Ketika kisah itu kembali di buka lebar-lebar, ada sebuah cerita tentang “mban cinde mban siladan” antara yang laki-laki dengan wanita. Dimana kepekaan dan kepintaran hanya sebuah icon laki-laki, sementara wanita hanya “konco wingking” yang mempunyai kehidupan sendiri. Dengan dunia yang berbeda dengan pria. Bukan tanpa alasan memang, tapi bukan berarti harus mengekang. Bukan tanpa arti sebenarnya, namun tidak berarti harus disamaratakan.

Pergolakan itu muncul akibat ekses yang semu, yang menganggap wanita seorang tunduk dan lemah. Ketika semua dibuka selebar-lebarnya, mulailah timbul kemerdekaan tentang kebebasan, dimana pria dan wanita ‘padha pintere’. Bahkan mengalahkan ‘den bei’ yang sebenarnya adalah punggawa berpendidikan.

Srikandi, nama itu tak asing di telingan orang indonesia. Sehingga menjadi icon sebuah kekuatan tentang wanita yang tangguh. Hampir setiap pergolakan dan pergerakan dengan atas nama wanita, nama Srikandi ini muncul. Dan menjadi simbol kekuatan sebuah tokoh wanita. Sebenarnya siapa Srikandi? Apakah di antara wanita tangguh sekarang layak menjadi icon Srikandi? Perdalam Coretan

Sesekali,berjalanlah dengan cara tak biasa

Yaa,sesekali kita berjalan dengan tidak biasa.
Rutinitas tiap waktu membuat jenuh bahkan teramat emosi.
Hampir-hampir,menjadi manusia dengan watak tempramental.

Dari bangun hingga larut malam,hanyalah sebuah seremonial hidup..
Memutar dan berjalan dalam gerak yang tidak berubah..
Teramat senang pada zona nyaman,hingga lebih mirip robot.
Dengan segala rutinitas yang sama tiap hari,bangun kerja makan santai dan tidur. bangun kerja santai makan dan tidur. Atau apalah kebiasaan kita..

Mirip robot,hanya mengulang perintah dalam prosesor. Namun tak bisa melakukan kebiasaan yang berbeda.
Berjalan dengan cara yang berbeda memberi warna dan pola yang menyenangkan. Bukan sekedar warna tanpa arti,dan pola tanpa makna. Perdalam Coretan

Setumpuk tulang dalam balutan daging..

Memaknai sebuah hidup hanya diberikan satu kesempatan. Kesempatan yang lain tidak ada. Hanya sesekali dan sebentar. Detak jantung dan hembusan rongga dada menjadi batasana yang harus diterima. Sekarang, hidup di dalam dunia yang serba elok dengan kesremawutan makna hidup. Ketika detak jantung di tiupkan tentang kehidupan, dengan itu pulalah setumpuk tulang dalam balutan daging menyatakan tentang Sang Pencipta. Di berikan tugas dan peringatan.

Kemudian mulai lah proses melihat dunia. Diberikan segala fasilitas semua keperluan, semua bekal untuk menjalani kebebasan yang dimiliki. Di beri pengingatan tentang janji peniupan nafas, yang menjadikan takwa atau kufur. Dan ketika mata sudah terbelahak dengan dunia dan isinya di mulailah kalkulator setiap gerakan setumpuk tulang dalam balutan daging. Perdalam Coretan

Ibu Sang Kesatriya Kurusetra

Sosok itu begitu anggun dipandang dan mempesona ketika bertutur. Bagi kebanyakan orang sosok seperti merekalah sesuatu menjadi berarti. Ia tidak lain ibu atau wanita. Lebih sedikit cerita pahlawan wanita yang berperan dalam peperangan, namun ketangguhan wanita dalam perang tak kalah jago dengan pria.

Dalam dunia wayang misalnya, kisah tentang mahabarata (perseteruan antara keturunan Kuru). Sosok ini begitu diangung-angungkan oleh anak-anaknya. Hingga tak sempurna suatu keinginan tanpa restunya. Sosok yang selalu di hormati ini, anak-anaknya selalu mencium kaki sang Ibu sebelum meninggalkan rumah untuk berperang dalam medan Kurusetra.

Kunti..,Yaa nama wanita ini adalah Dewi Kunti. Ia sosok wanita yang tangguh dan disegani. Kunti dilahirkan dari keluarga Yadawa. Mempunyai saudara bernama Basudewa (Ayah kresna dan Baladewa)

Dengan Pandu, Dewi Kunti memberikan kesatria yang tangguh: Yudistira, Werkudoro dan Harjuna. Dalam kesederhanaan dan kesendirian Kunti telah ditinggal suaminya ketika anak-anaknya masih kecil, ditambah dengan kedua anak dari istri Pandu yang lain, Dewi Madri yaitu : Nakula dan Sadewa. Mereka yang kemudian lebih dikenal dengan Pandawa. Perdalam Coretan

Lagu dolanan

Jaman semakin berkembang, teknologi makin maju. Perkembangan pesat menyebabkan banyak remaja jawa dan kabanyakan dari suku yang lain kehilangan identitas budayanya. Begitu banyak budaya nusantara yang ”makbedunduk” hilang dari ingatan para pemuda saat ini.

Seperti paribasa jawa ”kacang lali marang lanjarane”, orang yang lupa dari mana asalnya. Para muda mulai berbakat ”ngramaake inggil” dengan sang bapak dengan bahasa indonesia. Salahkan? Tidak sepernuhnya, namun tata krama bahasa dengan ayah bunda adalah keharusan.

Lupakah pemuda dengan sejuta makna dari tiap huruf dalam bahasa. ”Ajining dhiri iku saka lathi”, bahwa setiap kata yang terucap (lathi/lidah) menunjukkan kebesaran orang. Banyak orang yang berkaharisma karena pandai menggunakan ’lathine’, namun tidak sedikit yang hancur karena ’lathine’. Perdalam Coretan

Seperti Bumbu Dapur : Begitulah Kita

Perbedaan bukan untuk memisahkan dan membatasi, kawan. Seperti bumbu dapur, disatukan dengan rasa dan semangat. Diaduk dengan semua kekuatan yang mengelora. Dari satu rasa menjadi cita rasa yang disebut dengan persahabatan, persaudaraan.

Bumbu menjadikan makanan lebih terasa nikmat ketika mengulumnya dan terpesona ketika melihat. Sebagai dasar dari semua cita rasa yang disebut dengan resep. Resep inilah yang menjadi cikal bakal aroma dan rasa. Laksana bumbu dapur, yang bermacam karakter rasa dan warna yang menjadikan masakan lebih enak dinikmati dan menyehatkan.

Karakter bumbu adalah kisah tiap kita, kawan. Andai kita tau, seperti bumbu dapur saling melengkapi. Ada yang berkarakter seperti cabe rawit, gelora panas yang tinggi dan pedas kritik. Dibutuhkan dimana saja, bahkan engkau seperti menjadikan rasa menjadi lebih nendang. Ketika bumbu ini tak tersedia, sepertinya terasa ada yang kurang.

Perdalam Coretan

%d blogger menyukai ini: