Setumpuk tulang dalam balutan daging..

Memaknai sebuah hidup hanya diberikan satu kesempatan. Kesempatan yang lain tidak ada. Hanya sesekali dan sebentar. Detak jantung dan hembusan rongga dada menjadi batasana yang harus diterima. Sekarang, hidup di dalam dunia yang serba elok dengan kesremawutan makna hidup. Ketika detak jantung di tiupkan tentang kehidupan, dengan itu pulalah setumpuk tulang dalam balutan daging menyatakan tentang Sang Pencipta. Di berikan tugas dan peringatan.

Kemudian mulai lah proses melihat dunia. Diberikan segala fasilitas semua keperluan, semua bekal untuk menjalani kebebasan yang dimiliki. Di beri pengingatan tentang janji peniupan nafas, yang menjadikan takwa atau kufur. Dan ketika mata sudah terbelahak dengan dunia dan isinya di mulailah kalkulator setiap gerakan setumpuk tulang dalam balutan daging.

Melaju dan berputar, menjalani rutinitas kehidupan. Diciptakan kenangan, di buatlah masa lalu dan dikerjakan tentang hari ini. Disiapkan rencana menerjang hari esok. Memulai sandiwara kehidupan antara baik dan buruk. Jadi diri dicari dan dirinci agar mengerti tentang dan bagaimana. Mengenal apa dan siapa, mengerti semua apa dan bagaimana caranya. Semua dilakukan dengan mengucap, melihat dan berbuat.

Saat itulah, setumpuk tulang dalam balutan daging di uji tentang janji dan kesetiaan. Ketika menemukan jiwa di uji tentang kedermawanan hidup. Waktu itu, di ingatkan lagi tentang janji peniupan ke detak jantung agar tau tentang makna hidup sebenarnya. Ataukan tergadaikan dengan hidup yang tak berarti, kemudian hakikat tergadaikan, makna dihapuskan dan tertipulah semua kemuliaan.

Waktu yang terus memakan keperkasaan, meninggalkan segala semangat. Dalam setumpuk daging mulai merasakan tantang letih dan penat, dalam balutan daging terasa sangat rapuh dan renta. Kejayaan mulai suram, kulit kencang dengan kepastian mengkerut tanpa bisa dicegah. Hanya meninggalkan cerita dan kenangan tentang masa lalu, apa, siapa dan mengapa. Sebagian yang lain tak mampu di ingat dikepala. Ketika itu, keduniawian menjadi semu, sementara jam dinding mulai beranjak senja dan kalkulator semakin mendekati penghabisan.

lalu, dengan kepastian. Dicabut perlahan detak jantung yang dulu diberikan. Kini tertidur tanpa daya, tak lebih dari sekedar tulang dalam balutan daging. dan berakhirlah proses pemaknaan hidup, selesai sudah tentang kejayaan dan keperkasaan, berakhir pula kemuliaan status. Sebagian yang lain dikenang yang hanya menjadi kisah.

Meja hijau yang menyadarkan betapa cepat dunia berlalu, dan betapa sedikitnya hasil pemaknaan hidup. Betapa banyak kebodohan dan kesalahan yang di kantonginya. Sadar tak bisa kembali dan berbuat lagi. Namun, namun semua sudah terlanjur..

Lalu, apakah kita hanya mencari kehidupan tanpa makna? Menjadi manusia tanpa jiwa? Waktu yang akan menjungkalkan kita dalam pilihan, taat atau kufur. Dan waktu pulalah yang membawa pada kehancuran atau keabadian. Sangkan Paraning Dumadi, sadurunge nora ana dadi ana maleh neng nora ana.

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 20 April 2010, in Perenungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: