Belajar dari tokoh Gareng

Gareng, adalah salah seorang tokoh wayang punakawan mempunyai nama asli Bambang Sukadadi yang merupakan tetua dari ketiga putra Semar yang lainnya (Petruk dan Bagong). Wataknya yang sopan dan halus dalam bertindak menjadikan Gareng menjadi tokoh yang dihargai. Gareng di berikan amanah menjadi seorang penasehat para Pandawa.

Gareng mempunyai tubuh yang tidak sempurna, wajahnya jelek dan matanya juling. Gareng mempunyai watak yang selalu bergembira mengeluarkan aura yang positif. Dalam setiap lakon pewayangan, Gareng selalu menjadi penengah ketika adik-adiknya salah paham. Bahkan Gareng pernah menyelamatkan Petruk, ketika Petruk lupa setelah menjadi raja.

Gareng, mempunyai nama lain yaitu Nala Gareng yang berarti kering, hatinya yeng kering dengan godaan nafsu dunia. Atau Pancalpamor yang berarti menolak terjerumus keduniaan.

Tokoh Gareng mempunyai wajah yang jelek, terutama matanya yang juling. Ini menunjukan bahwa tokoh Gareng tidak suka melihat keburukan, matanya selalu terjaga dari pemandangan yang menggoda pada dunia.

Tanganya yang ceko atau patah, merupakan penggambaran bahwa Gareng tidak suka mengambil hak orang lain, tidak suka menggunakan kekuasaan yang diberikan dengan semena mena. Tangannya terjaga dari segala sifat iri dan sombong.

Kakinya yang pincang, merupakan penggambaran bahwa Gareng mempunyai sifat yang berhati-hati dalam melangkah. Segala tindak tanduknya selalu diperhatikan benar dampak baik dan buruknya. Tidak suka tergesa-gesa dan melangkah tampa tujuan.

Tokoh Gareng hanya sebuah perumpamaan tentang sifat manusia. Yang perlu menjadi pertanyaan bagi kita : Apakah kita masih harus diperingatkan dengan cobaan? Apakah kita akan bertaubat setelah Allah swt memberikan bancana kepada manusia, dengan musibah dan bencana. Seperti Gareng, matanya juling tanganya patah, kakinya pincang dan buruk rupa.

Apa harus dipatahkan dulu tangan kita, ketika salah menggunkan kekuatan dan kekuasaan? Apakah harus dirusak wajah dahulu, ketika sombong dengan kecantikan dan harta?
Benar memang, segala bencana di nusantara ini akibat ulah manusia sendiri yang tidak memperhatikan tingkah lakunya. Teramat lupa dengan yang menciptakan dan pemilik jagat raya ini..

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 24 September 2010, in Perenungan and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: