Ibu Tua Di Pinggir Jalan (Based on A True Story)

Siang itu, matahari begitu terik dan mengeringkan semua yang menyertai dibawahnya. Semakin siang keluh dan peluh menyambut mereka yang berjalan di bawah sang matahari. Semakin panas, semakin ku kebut laju kendaraan hingga sampai tempat tujuan. Jalan semakin padat di sekitar Bundaran Kali Banteng Semarang.

Kulihat warna lampu lalin berwarna merah diatas, itu berarti semua yang berjalan harus berhenti di belakang garis marka, begitu kata sambutan di pinggir jalan. Beberapa hasta dari tempatku berhenti kuperhatikan sesuatu percakapan yang membuatku ingat selamanya hingga hari ini. Seorang ibu yang mungkin berusia sekitar setengah abad sedang berdiri di pembatas tengah jalan Siliwangi, bersama di sisi kanan dan kirinya ada seorang gadis muda yang beranjak dewasa dan seorang lelaki kecil belum baligh yang mengandeng tangan sang ibu.

Sambil kebingungan sepertinya hendak menyebarang ke sisi jalan lain, terlihat mereka menenggok jalanan dengan sedikit rasa was-was karena begitu banyak kendaraan berukuran raksasa hingga kecil mungil seperti yang saya pakai menutupi perjalanan mereka. Dalam kebingungan tersebut sang ibu berkata :

“Liwat kono wae.” Sambil melihat sekitar palang lalin, mungkin yang dimaksud adalah zebra cross.

“Alah mbok kesuwen, wis lewat kene wae. Nyebang liwat tengah.” Kata Gadis muda tersebut.

Dalam kebimbangan, Ibu Tua itu berkata :

“Yo wis nek ngono.” Sambil memegang kedua tangan gadis dan lelaki itu.

Dan menyeberang ke masuk ke arah tengah jalan yang penuh sesak dengan asap dan kendaraan.

lampu lalin mendadak hijau, kukayuh kendaraan dan aku hanya sempat memperhatikan dengan kaca spion kananku lalu seketika mereka hilang dari pandanganku.

Entah apa yang terjadi kemudian saya tidak tau, masih menjadi mistery. Apakah mereka menyeberang dengan mudah? Atau mereka menyeberang dengan sedikit hambatan? Ataukah yang paling mungkin mereka menyeberang menghambat laju kendaaran yang seketika berjalan maju?

Dalam sepengal plot cerita yang belum selesai tersebut, ada gambaran tentang yang disebut ‘mendengar saran‘. Apabila mendengar saran ibu tua tersebut dikerjakan, ada dua kemungkinan. Pertama, mereka berjalan dengan kemudahan tanpa hambatan. Kedua, mereka secara tidak langsung tidak mengganggu kendaraan yang berjalan. Namun ibu tua tersebut akhirnya juga memilih mendengar saran dari si Gadis muda dengan beberapa kemungkinan yang terjadi seperti pertanyaan itu.

Seandainya saya dan anda tidak terlalu egois dengan kerasnya hati kita, sebenarnya kita sangat berkualitas dalam mendengar saran. Saran yang terbaik dari konsekuensi akibat terburuk lebih bijak dari pada saran karena keras kepala yang tumbuh karena angkuh dan sedikit ilmu. Baik itu saran dari seorang yang bisa kita katakan ‘tidak terdidik’ di dunia formal, dan dianggap tidak lagi berguna. Yang pasti seseorang yang memberi saran dengan hatinya adalah pilihan yang bijak untuk di ikuti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: