From Dieng Plateau with Love : Season 3 (Masyarakat Dieng)

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) merupakan wilayah yang masuk dalam kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Selain terkenal dengan komplek candi yang sangat megah, ditambah telaga warna yang indah, telaga pengilon yang bening, dan  sumber air panas geothermal yang ada di kawah sikidang dan kawah sileri. Ternyata Dieng juga menyimpan keindahan yang lain, yaitu kondisi sosial kultur masyarakat Dieng (Kejajar, Dieng Timur, Dieng Barat). Dalam dua coretan yang lain tentang Dataran Tinggi Dieng telah mengupas yang pertama tentang Alam, dan kedua tentang Budaya dan Candi-candi yang ada di Dieng. Maka coretan yang ketiga (terakhir) ini akan mengupas sisi lain Dieng, yaitu keadaan masyarakat Dieng (Peoples of Dieng) yang ramah dan hidup berdampingan dengan alam.

Kondisi Geografis Dataran Tinggi Dieng yang berada di lebih dari 2000 DPL (Diatas Permukaan Laut) menjadikan mata pencaharian masyarakat Dieng cenderung homogen. Wilayah dieng juga digolongkan dalam wilayah hutan pegunungan  atas yang terdapat banyak lumut dan cuaca eksrim dingin yang panjang. Jenis pohon dan tanaman juga cenderung sama dibandingkan dengan hutan pegunungan bawah sehingga sangat mempengaruhi keanekaragaman hasil alam yang ada di Dieng. Ciri khas pohon yang ada di Dieng adalah Pohonnya pendek, ukurannya kecil dan berdaun tebal. Oleh karena itu, masyarakat Dataran Tinggi Dieng lebih banyak menjadi petani Kentang (Solanum tuberosum L.) dari pada sayuran yang lain. Hampir semua lahan persawahan dipenuhi oleh tanaman kentang. Karena memang,  tanaman kentang cocok ditanam di daerah yang sejuk dan tinggi.

Selain menaman kentang di persawahan, masyarakat Dieng juga melakukan penanaman pohon yang lain yang sangat terkenal, seperti pohon Purwoceng ( Pimpinella Alpina (Zoll) atau P. Pruacan Molk). Tanaman ini sangat langkan karena hanya bisa hidup di dataran tinggi seperti Dieng. Dalam banyak coretan, tanaman purwoceng merupakan tanaman pengganti gingseng. Karena tanaman ini yang terdapat di daun dan akar mengandung steorid (stigmasterol dan sitosterol), kumarin dan vitamin e. Beberapa tanaman lain yang merupakan hasil pertanian masyarakat Dieng adalah buah Carica dan lombok Dieng. Carica ini mirip dengan buah pepaya hanya ukuranya lebih kecil. Kebanyakan buah ini dimanfaatkan untuk manisan yang lezat, untuk ukuran 1 botol Petualang dapat membeli dengan kisaran harga antara Rp. 8.000 – 10.000,-. Sedangkan lombok Dieng bentuknya gemuk (bogel), pendek dan berwarna hijau dengan garis merah kehitaman. Kedua tanaman tersebut hampir menyebar diseluruh perbukitan Dieng.

Selain bertani kentang, masyarakat dieng juga mempunyai bisnis sepeti warung makan, pertokoan kelontong dan penyewaan homestay dan hotel. Homestay ini banyak bertebaran di Dataran Tinggi Dieng, untuk 1 kali sewa dikenakan biaya sekitar Rp. 200.000 ,- hingga Rp. 300.000,- tergantung kondisi homestay-nya. Namun secara keseluruhan masyarakat Dieng lebih mengabdikan diri hidup berdampingan dengan alam yaitu bertani kentang. Baik laki-laki maupun perempuan bekerja dan berdedikasi menjadi petani kentang yang tangguh. Itulah kenapa di dataran tinggi Dieng terhampar luas sawah-sawah kentang dari kaki bukit hingga puncak pegunungan yang tinggi.

Persawahan kentang menyebar di sekitar area wisata dari komplek candi-candi arjuna, Dieng Plateau Theater, Sumur Jalatunda dan Kawah Candradimuka. Ketika Petualang bertanya tentang kentang yang terbaik, maka orang-orang akan mengatakan bahwa kentang Dieng adalah yang terbaik di Jawa Tengah. Sebagian yang lain berprofesi sebagai ojek panggilan, ojek ini bisa Petualang sewa dengan memberikan ongkos sebesar sekitar Rp. 125.000,- untuk mengantar pelancong menuju tempat-tempat wisata di Dataran Tinggi Dieng selama 2 (dua) hari. Harga tersebut sudah termasuk tiket masuk. Namun tidak semua tempat dikunjungi ketika petualang menggunakan jasa ojek tersebut. Hari pertama hanya Telaga warna, Telaga Pengilon, Kawah Sikidang, Komplek candi Arjuna. Hari kedua Sikunir Sunrise, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka yang memang letaknya lebih jauh.

Sebagian masyarakat Dieng juga mengelola beberapa pengunungan yang landai menjadi sebuah lahan pertanian kentang yang subur, tidak hanya pegunungan yang datar saja, namun juga puncak pegunungan dan bukit-bukit yang mempunyai kemiringan sangat curam dan terjal. Secara bersama-sama mereka membuat dan memotong bukit yang curam menjadi lahan pertanian yang subur. Alat yang digunakanpun tidak terlalu modern, hanya menggunakan cangkul, kayu tajam dan sekop. Perbukitan tersebut secara normal memang tidak bisa dijadikan lahan persawahan yang aktif, kerena letaknya yang curam, sedikit air dan berbahaya. Namun masyarakat Dieng menjadikannya lahan yang subur dan produktif untuk bertani. Selain air yang melimpah dibukit yang lain,cara yang mereka lakukan dengan menyalurkan air dibukit yang melimpah airnya menyebar keseluruh persawahan yang ada di dataran tinggi Dieng dengan mengunakan pipa pralon yang sangat panjang.

Pekerjaan yang dilakukan bersama-sama tidak hanya ketika pembuatan lahan saja, namun juga dilakukan ketika melakukan proses penanaman pohon kentang. Baik ibu-ibu atau bapak-bapak, usia muda maupun tua bekerja menanam bibit kentang dari sawah yang datar hingga persawahan yang curam lagi terjal. Mereka bekerja sekitar 8 hingga 10 orang secara berjalan mundur bersama. Kegiatan ini memang mirip dengan persawahan pada umumnya di dataran rendah seperti petani padi dan jagung. Yang membedakan hanya letak tanahnya saja yang terjal di atas pegunungan. Para Petani kentang ini memulai pekerjaannya dari pagi sekali sebelum matahati terbit ketika udara sangat-sangat dingin mencekam hingga sore hari yang mulai sejuk dan siulet.

Selain para petani pembuat sawah dan petani yang menanam bibit kentang, masyakarat Dieng juga ada yang bekerja sebagai pemikul. Pemikul ini ada beberapa macam seperti pemikul kentang dan pupuk. Para pemikul kentang di Dieng berjalan dari persawahan di atas bukit menuruni jalan setapak menuju tempat tengkulak berkumpul. Mereka berjalan beberapa kilometer panjangnya dengan memikul kentang yang beratnya hampir 40kg lebih. Mereka bolak-balik membawa panen kentang dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Mereka mengangkut kentang dengan menggunakan kekuatan pundak di bantu alat pemikul seperti rombong (karung yang terbuat dari anyaman bambu lalu di antara keduanya diberi bambu dibagian tengah untuk memikul).

Pemikul pupuk juga sangat luar biasa, mereka membawa pupuk yang sangat berat dari atas bukit menuruni jalanan terjal menuju persawahan dengan kekuatan punggung mereka. Pupuk-pupuk ini di angkut oleh truk dari luar Dieng menuju jalanan terdekat dari persawahan. Walaupun secara nyata tidak bisa dikatakan terdekat, karena dari perhentian truk tersebut para pemikul harus membawa lagi jauh ke dalam persawahan. Memang, jalur truk hanya bisa sampai di sekitar pos penurunan pupuk, selebihnya adalah jalan setapak yang medaki lagi terjal yang hanya bisa di jangkau dengan berjalan kaki.

Ketika Petualang berada di area wisata Dataran Tinggi Dieng, jangan heran ketika bertemu dengan banyak kelompok pengamen yang terdiri dari anak-anak muda yang membawakan lagu sesuai keinginan mereka sendiri. Biasanya pengamen ini berada dipintu masuk area wisata seperti Telaga Warna, Komplek Candi Arjuna, Sumur jalatunda, Kawah Sikidang dan beberapa tempat yang lain. Mereka hanya bernyanyi dan tidak meminta upah seperti pengamen jalanan yang lain. Namun mereka menyediakan tempat khusus yang terbuat dari kardus atau kaleng sebagai tempat para Petualang memberikan uang receh hingga ribuan. Tak ada salahnya Para Petualang memberikan uang seribu sambil menikmati pemandangan yang indah di Dieng dengan alunan musik jalanan yang menarik.

Alat musik yang digunakanpun tidak canggih, hanya gitar yang paling utama dan beberapa alat musik seadanya. Namun pembawaan para pengamen jalanan ini merupakan sumber mata pencaharian yang lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat Dieng terurama oleh kaum muda yang bersemangat.

Selain bertani, masyarakat Dieng juga memiliki keunikan seperti fenomena anak berambut gimbal (keriting gembel). Banyak dari anak-anak yang lahir memiliki rambut gimbal, penduduk Dieng menghubungkan fenomena ini dengan hal-hal spiritual di lingkungan Dieng. Masyarakat Dieng berangapan bahwa anak berambut gimbal merupakan keturunan dari leluhur atau pepunden (pemimpin) Dieng jaman dulu kala. Rambut gimbal ini dipercaya tidak dapat dihilangkan begitu saja dengan mudah, keinginan untuk memotong rambut ini harus sesuai keinginan sang bocah dengan meminta hadiah tertentu. Dan kemudian upacara tertentu di adakan untuk melakukan prosesi pemotongan rambut tersebut.

Bertanam adalah aktivitas sehari-hari masyarakat Dieng, namun di Dieng juga sangat kental dengan kesenian dan budaya yang ada di sekitarnya. Beragam budaya kesenian muncul seperti Tari golek Gendong, yaitu sebuah kesenian mencari siapa yang digendong dan siapa yang mengendong. Kesenian masyarakat Dieng dimainkan dari kampung ke kampung disertai gending musik instrumental bende dan kendang yang menarik. Selain itu, ada kesenian yang lain seperti Tari Barongan macan, tari ini ada di dalam pertunjukan Lengger. Yang menarik dari Barongan Macan adalah daya tarik magic yang timbul ketika memainkan tarian ini dengan cara dirasuki sesuatu yang ghoib pada pemain Barongan Macan. Ketika membuat Barongan Macan, maka kepala barongan di semayamkan dahulu di salam wingit (tempat pemujaan) untuk mendapat kekuatan magis.

Kesenian lain yang ada di masyarakat Dieng adalah Tari Topeng. Tari Topeng dipentaskan saat perayaan tertentu atau ritual yang telah dijadwalkan. Dengan mengunakan topeng, para pemain membawakan cerita lokal yang berjudul Panji. Cerita Panji ini berisikan tentang pengembaraan Panji Asmarabangun atau Inukertopati dari kerajaan Kahuripan yang berkelana dan menyamar untuk mencari cinta atau kekasih. Kekasih itu tak lain adalah Dewi Candrakirana atau Sekartaji dari kerajaan Daha. Cerita Panji ini merupakan cerita asli dari Jawa, yang merupakan kisah dari kerajaan kuno jawa seperti Daha, Kediri, kahuripan, dan Panjalu. Dalam Tari topeng, disajikan lengkap dengan tari jaran kepang (kuda lumping) dan lengger. Tari jaran kepang mengambarkan tentang kejadian peperangan yang besar sedangkan tari lengger mengambarkan tentan suka cita dan kegembiraan karena telah memenangkan peperangan.

Nah, Apabila Petualang masih pening dan belum faham dengan berbagai tempat yang menarik di Dataran Tinggi Dieng, Petualang bisa Ambil menDownload Peta Sederhana (bentuk : PDF File) yang sedikit bisa membantu perjalanan Petualangan. Silakan KLIK DISINI.

Baca Juga :

  1. From Dieng Plateau With Love Season 1 : Alam Dataran Tinggi Dieng
  2. From Dieng Plateau With Love Season 2 : Budaya dan Candi Dieng
  3. Istana Ratu Boko : Candi Megah Di Atas Bukit
  4. Candi Plaosan :Kemegahan candi kembar
  5. Candi Sambisari : Ribuan Tahun berselimut Vulkanik Merapi.
  6. Melihat Merapi dari Ketep Pass.
  7. Keraton Surakarta : Perpaduan Kemegahan Eropa dan Keunikan Jawa.
  8. Keraton Yogyakarta : Istana Budaya dan Keindahan Jawa.
  9. Explore Museum Kereta Api Ambarawa. 
  10. Kebun Binatang Gembira Loka : Petualangan Unik dan Menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: