Perenungan : Baju dan Kita

Siapapun anda, dengan segala kelebihan label dan merk yang ada di dalam aktivitas anda sebenarnya hanya sebuah baju. Baik anda seorang ikhwah, haji, hanif, profesor, supir, perampok, mahasiswa, maling, doktor, artis, ustadz, polisi, dokter, manager, preman, buruh, wanita dan pria dan masih banyak lainnya, semua SAMA. Mutlak..

Anda dan atau saya punya kode mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, haji dan belum haji, buruh dan manager, pasien dan dokter sesungguhnya sama. Apa yang membuat seolah kita adalah bagian yang paling unggul dibandingkan yang lainnya? Bisa jadi, label merk yang dipakai terlalu banyak untuk tidak di tampakkan ke orang lain.

Anda melihat kejahatan, namun tanpa disadari dengan label yang dimiliki telah membuat sebuah kejahatan yang tidak nampak. Orang lain bisa merasakan, namun lebih yang berpunya label tidak sedikitpun merasa. Berapa banyak anak manusia yang berjatuhan karena ulah orang yang berlabel dewasa, berapa banyak orang baik yang terbunuh karena label seorang dokter, berapa jumlah terbunuh karena perampokan dibandingkan seorang artis yang mengajarkan ma’siyat dengan video.

Ataukah berapa manusia yang terjurumus sombong dengan segala pangkat jabatan yang disandingnya, dan berapa banyak orang yang sadar bahwa sebenarnya anda, saya, dia, mereka adalah SAMA. Bukankah kita manusia, diciptakan dari air yang hina…

Orang lain biasa mengosib, kita biasa membuat kabar ‘katanya’. Orang lain suka berjudi, kita suka bermain ayat. Orang lain sibuk menghitung uang, kita sibuk kerja lupa sholat. Orang lain sering tertawa terbahak-bahak, kita sering tak khusyuk ibadah. Kemudian, apa bedanya?

Label yang kita miliki, sama seperti baju. Segala label yang dimiliki hanya dipakai sekali, tidak selamanya menempel di badan. Berfungsi untuk menutupi segala bentuk kebusukan kita yang tidak nampak. Benarkah ketika baju itu tersibak sedikit saja, bau busuk akan keluar hingga sudut yang paling tersembunyi sekalipun? Menorehkan luka lara yang sangat menganga selamanya, biasa disebut dengan men-jugment.

Baju, label kita, ada beberapa kaidah yang membedakan seberapa kuat kita menutupi kebusukan yang ada.

PertamaHarga Jual baju tersebut. Semakin baju memiki harga jual yang sangat melambung, dapat dipastikan saja baju tersebut dalam kategori istimewa. Berbeda dengan baju yang dengan harga tertentu mendapatkan selusin baju, tentu saja kualitasnya sangat jelek.  Label yang kiat miliki pun mempunyai HARGA JUAL. Seorang doktor dengan segala upaya akademiknya tentu saja berbeda dengan mahasiswa. Ataukah label Kyia Haji yang sangat di sanjung, tentu saja berbeda dengan ustadz kampung. Harga jual, bisa kita katakan sebagai asal bidang keilmuan seseorang.

Kedua, Bahan Baju. Singkatnya, semakin bahan yang menjadikan baju tersebut menarik dan langka maka semakin baju tersebut mendekati sempurna. Bahan kaingoni yang biasa dipakai untuk menimbun beras, tentu saja sangat jauh dengan kain sutra yang di hasilkan dari material yang langka. Label sehari-hari kita, tak lepas daribahan yang digunakan dalam beraktivitas. Bahan Baju bisa kita menyebutnya dimana tempat sekarang bernaung. Anda yang bekerja menjadi anggota dewan yang di gedung ber-AC memiliki bahan yang sangat mengoda, ketimbang menjadi guru di daerah terpencil di atas pengunungan.

Ketiga, Desian Baju. Baju dalam kategori yang menawan bila memiki desain yang tampan, seperti lekukan, motif, warna-warni, dan segala aksesoris yang menempel di baju tersebut. Desain baju bisa kita bilang semua aktivitas dari kelompok yang menjadi tempat bernaung. Komunitas maling  ‘mungkin’ saja memiliki kualitas rendah dibanding jaksa dan polisi. Namun bisa jadi maling dan penegak hukum mempunyai kualitas yang sama. Atau para orang tua yang memiliki tingkat bahan yang sangat bagus, namun bisa saja tidak memiliki desain yang bagus karena memang tak bisa di buat bordir, karena tidak mampu memberikan tauladan kepada anaknya.

Ketiganya memiliki satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah baju. Ketiganya tak bisa terpisah satu sama lain dari label yang kita miliki. Tinggal bagaimana kita membuat berbeda. Apabila salah satu label memiliki tingkat yang lebih rendah dari yang lainnya, bisa di anggap label yang dimiliki seseorang dalam kondisi BURUK.

Contoh, seseorang lulusan universitas terkemuka di indonesia dengan hasil yang memuaskan, akhirnya dia bisa bekerja di sebuah perusahaan multinasional NAMUN, dengan segala kelebihan tersebut tidak didapati ia sholat dan zakat. Atau seorang Haji yang sangat termasyur namun tidak bisa mendidik istri dan anaknya ke jalan yang benar. Mungkin bisa seorang penegak hukum di Indonesia ini menjadi maling karena merasa senang dengan komunitas mafia hukum dan makelar kasus karena mendapatkan banyak dolar. Ataukah seorang dewasa yang sangat fenomenal, namun tidak mampu menjaga lidahnya dari membuat gosip kawan yang lain, hingga banyak dari mereka gugur seperti daun kering. Salahkah mereka? Benarkah kita? Sungguh tragedi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: