Ibu Sang Kesatriya Kurusetra

Sosok itu begitu anggun dipandang dan mempesona ketika bertutur. Bagi kebanyakan orang sosok seperti merekalah sesuatu menjadi berarti. Ia tidak lain ibu atau wanita. Lebih sedikit cerita pahlawan wanita yang berperan dalam peperangan, namun ketangguhan wanita dalam perang tak kalah jago dengan pria.

Dalam dunia wayang misalnya, kisah tentang mahabarata (perseteruan antara keturunan Kuru). Sosok ini begitu diangung-angungkan oleh anak-anaknya. Hingga tak sempurna suatu keinginan tanpa restunya. Sosok yang selalu di hormati ini, anak-anaknya selalu mencium kaki sang Ibu sebelum meninggalkan rumah untuk berperang dalam medan Kurusetra.

Kunti..,Yaa nama wanita ini adalah Dewi Kunti. Ia sosok wanita yang tangguh dan disegani. Kunti dilahirkan dari keluarga Yadawa. Mempunyai saudara bernama Basudewa (Ayah kresna dan Baladewa)

Dengan Pandu, Dewi Kunti memberikan kesatria yang tangguh: Yudistira, Werkudoro dan Harjuna. Dalam kesederhanaan dan kesendirian Kunti telah ditinggal suaminya ketika anak-anaknya masih kecil, ditambah dengan kedua anak dari istri Pandu yang lain, Dewi Madri yaitu : Nakula dan Sadewa. Mereka yang kemudian lebih dikenal dengan Pandawa.

Dari Kunti-lah, kelima Pandawa ini menjadi kestriya yang tak kalah tanding. Dari didikan Kunti, Pandawa menjadi manusia yang berwatak ajaib dan baik. Kunti telah membesarkan Pandawa Kecil dan menyiapkan mereka untuk menjalani garis kehidupan yang teramat keras. Kunti menjadi sosok yang sangat dihormati di keluarga Pandu dan Kuru termasuk anak-anaknya.

Dengan segala kesusahan dan ketamakan dunia, wanita Kunti mampu mendidik kelima anaknya untuk menjalani kekejaman Korawa (Anak dari paman Pandawa : Destarata). Bahkan ketika harus menjalani pengasingan selama 11 tahun dalam lebatnya hutan dan tipu daya Korawa. Sosok Kunti tetap tegar.

Ia seolah menjadi jantung bagi anak-anaknya. Magnet yang kuat dalam membentuk perilaku manusia. Segala bentuk curahan kasih sayang Kunti, semua untuk kelima anaknya. Maka tak mengherankan, apabila Pandawa harus rela bersimbah darah membela kehormatan keluarga dan Ibunya hingga menjadi pertempuran yang dasyat dengan Korawa (yang masih satu keluarga).

Apa yang membuat sosok Kunti begitu berharga dimata Pandawa dan setiap orang yang bersamanya? Tak lain karena Kunti adalah sosok wanita yang langka, yang tidak ada kebesaran dan kehormatan dalam perang Kurusetra untuk menjadi tandingan. Kunti dianggap sukses membesarkan Pandawa dan seluruh keturunan Pandu, walau Kunti seorang diri (single parent) tanpa suami disisi. Cinta Kunti yang begitu besar terhadap suami dan kelima Pandawalah telah melupakan bahwa wanita adalah sosok yang dianggap lemah, yang tidak mampu kokoh, yang kalah tanding dengan pria. Kunti pula telah membuktikan bahwa wanita bukan seorang yang kemayu, manja, cengeng dan lainnya.

Sosok Kunti bukanlah wanita perkasa dalam medan perang, selayaknya Srikandi. Kunti memandu semua aktivitas dan gelora pertempuran diluar panggung. Kunti hanyalah sosok ibu yang mempunyai sejuta cinta bagi Pandawa. Tak pernah ia memikul senjata dan menaiki kereta perang, namun Kuntilah yang berjasa besar atas kemenangan Pandawa dalam medan Kurusetra. Restunya telah menghipnotis pandawa kecil menjadi satriya yang elok dan perkasa.

Hari inipun, sosok Kunti masih tidak terlalu banyak. Sosok kesatriya yang tangguh dengan segala kekuranganya, namun mampu memberikan efek dasyat pada keluarga dan semuanya. Sosok Ibu yang kuat hatinya, kokoh didikannya, dan lemah lembut dalam bertutur kata. Sosok wanita yang suci kehormatanya, berseri tingkah lakunya.
Bukan wanita dengan segala kemewahannya, manja, cerewet, berpose aduhai, berdandan dengan semua liptik dan bedak seharga jutaan, berpakaian dengan gaya yang tak pantas, berperilaku seperti haus akan harta dunia. Bermewah- mewah dalam kesombongan.

Kunti, sosok ibu sekaligus wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Untukmu ibu dan wanita yang tangguh….
Untuk memperingati hari Ibu.

Baca Juga : Srikandi Wanita Perkasa Lainnya

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 19 April 2010, in Perenungan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: