4 Rakaat (based on a true story)

Suatu ketika, perhelatan saya di hentikan oleh dengungan adzan di Masjid Agung Jateng. Kemudian kakiku beranjak turun ketempat wudhu. Saat itu, kuperhatikan seorang anak kecil mungkin umurnya sekitar 4 atau 5 tahun yang sedang wudhu, sedangkan sang ayah wudhu di samping anak tersebut agak kejahuan.

Kemudian anak itu bertanya : “Papat rakaat,pak?”
Sang ayah menjawab : ” Iyo, papat rakaat”

Sambil saya tersenyum melihat keganjilan tingkah polah anak tersebut. Dia mulai menghitung : “Siji, loro, telu, papat.” Dibasuhlah tangannya.
“Siji, loro, telu, papat. ” Berkumurlah dia.
“Siji, loro, telu, papat. ” Begitu seterusnya hingga sampai membasuh muka.
Kemudian sang ayah menghentikan wudhunya dan berkata :
” Ehh, dudu koyo ngono. Nek wudhu yo ping telu telu.”
“Ping telu?” Tanya anak tersebut
“Iyo, sing papat rekaat iku mengko sholat dzuhure.”

Akhirnya dengan senyuman, anak tersebut mengulang wudhunya..

Hee-e, true story ini mengajarkan bahwa potensi seorang anak, siapapun itu, adalah memiliki kemampuan penalaran yang luar biasa. Hanya bagaimana anda, saya, dan siapapun kita yang disebut seorang dewasa haruslah memberikan penalaran yang baik.

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 19 Juli 2010, in Perenungan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: