Lagu dolanan

Jaman semakin berkembang, teknologi makin maju. Perkembangan pesat menyebabkan banyak remaja jawa dan kabanyakan dari suku yang lain kehilangan identitas budayanya. Begitu banyak budaya nusantara yang ”makbedunduk” hilang dari ingatan para pemuda saat ini.

Seperti paribasa jawa ”kacang lali marang lanjarane”, orang yang lupa dari mana asalnya. Para muda mulai berbakat ”ngramaake inggil” dengan sang bapak dengan bahasa indonesia. Salahkan? Tidak sepernuhnya, namun tata krama bahasa dengan ayah bunda adalah keharusan.

Lupakah pemuda dengan sejuta makna dari tiap huruf dalam bahasa. ”Ajining dhiri iku saka lathi”, bahwa setiap kata yang terucap (lathi/lidah) menunjukkan kebesaran orang. Banyak orang yang berkaharisma karena pandai menggunakan ’lathine’, namun tidak sedikit yang hancur karena ’lathine’.

Mulai dengan bahasa yang luntur berkembang dengan hampir punahnya budaya lagu ’dolanan’ ketika masih cilik. Dikalahkan dengan musik yang lebih seru, mulai dari pop, rock, dangdut, nasyid, campursari dan lainnya. Anak kecil semakin gandrung ’sukacita’ dengan para penyair cinta mulai dari peterpan, shela on7, the virgin, Gigi, Mata, Wali, TT, dan lain sebagainya.

Lagu dolanan seperti lir-ilir, dolanan dakon, cublak-cublak suweng, dondong opo salak, sedeku, bapak pucong, sluku-sluku batok, E dayohe teka, Pitik Tukung, Kate-kate dipanah, Menthok-menthok, kodok ngorek, jamuran, gundul-gundul pacul, gambang suling, suwe ora jamu, tak lelo lelo ledung, Jaranan dan lain sebagainya.

Kalau dirunut, bahwa lagu ’dolanan’ mempunyai banyak makna dan aji ketimbang lagu-lagu yang populer zaman sekarang. Lagu sekarang pop misalnya menceritakan tentang selingkuh dan cinta terlarang, apakah para muda anak kecil pantas mendapatkan cerita seperti itu?

Lihat saja lagu ’dolanan’ yang mungkin kita masih ingat kodok ngorek:

Kodok ngorek kodok ngorek ngorek pinggir kali.
teyot teblung teyot teblungteyot teyot teblung.
Bocah pinter bocah pinter besuk dadi dokter.
bocah bodho bocah bodho besuk kaya kebo.
Begitu lagu ini mengajarkan agar sang anak belajar dan giat berusaha agar bisa meraih cita-citanya kelak, tidak disibukan dengan bermain play station, tawuran, pacaran, dll.

Atau lagu dolanan dondhong apa salak :

dhondhong apa salak dhuku cilik cilik
ngandong apa mbecak mlaku thimik thimik
adhik ndherek ibu tindak menyang pasar
ora pareng rewel ora pareng nakal
mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh
kacang karo roti adhik diparingi
Lihatlah, betapa lagu ini mengajarkan anak kecil tentang bagaimana bertata krama dengan ibu. Dan mengajarkan pilihan tentang yang baik-baik.

Namun, sekarang kebanyakan terlupakan…salah siapa? Mungkin sedikit dari semua orang masih ingat dengan lagu ’dolanan’. Inilah refleksi sumpah pemuda yang perlu untuk direnungkan bahwa walaupun semua orang adalah berbahasa, berbangsa, bertanah air satu..namun ingat dari mana asal,adalah suatu keperdulian terhadap cinta tanah air.

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 19 April 2010, in Perenungan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. dulu sih ada buku lagu Wajib dan Lagu daerah…. ehm…sekarang pada kemana yach? heheheheh

    sayang banget klo anak2 kita kurang mengenal lagu daerah….malah lagu POP justru dihapalnya…. wuih…

    salam,
    bernadusnana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: