Menakluk Candi, Ekspedisi Candi Di Jawa Tengah dan Jogjakarta (Bagian Kedua)

Candi Sewu Prambanan

Candi Sewu Prambanan

Setelah menakluk candi di Dieng dan Ungaran,#Menakluk Candi Bagian Pertama, saatnya menjelajah di pusat candi di Jawa, Jogjakarta. Di Ungaran sendiri sebenarnya masih ada candi kecil yang bernama candi Ngempon, namun keberadaannya jauh dari “promosi” dinas pariwisata kabupaten atau propinsi. Yaa bagaimana lagi, oke kembali ke penjelajahan kedua ini. Di Jogjakarta dan Klaten menjadi pusatnya candi-candi yang ada di Jawa (selatan). Sebuah pertanyaan besar adalah sebenarnya ada berapa situs candi di Jogja? Penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Mundardjito (guru besar Univeristas Indonesia) tentang pesebaran candi yang ada di Jogjakarta, yang terkenal dengan julukan Bapak Candi mengungkapkan bahwa ratusan candi menyebar di Jogjakarta.

Prof. Dr. Mundardjito sendiri membagi candi-candi tersebut menjadi 4 (empat) kelompok yang dilihat berdasarkan lokasi yang dipilih atas potensi dan kondisi lingkungan sekitar. Lebih lanjut, Prof. Dr. Mundardjito memberikan 9 (sembilan) variabel untuk menentukan jumlah dan pembagian candi-candi tersebut seperti Ketinggian Tempat, Kemiringan Permukaan Lahan, Bentuk Lahan, Jenis Lahan, Jenis Batuan, Kedalaman Efektivitas Tanah, Kedalalam Muka Air Tanah, Permeabilitas Lapisan Deposit Air Tanah (Akifer) dan Jarak Terhadap Sungai atau Sumber Air.

Berdasarkan penelitian ini kelompok 1 terdapat 10 situs candi dan kelompok 3 terdapat 6 situs. Dua kelompok tersebut merupakan komposisi dari lingkungan atau sumber daya yang kurang potensial, sehingga kurang tepat untuk masyarakat yang hidupnya bergantung pada sektor pertanian. Sedangkan kelompok 2 (85 situs candi) dan kelompok 4 (117 situs) mempunyai potensi sumber daya yang baik untuk hidup secara bertani dan menetap.

  • Candi Prambanan dan Candi Sewu.

Candi ini sangat terkenal diberbagai negara di dunia, sementara di Indonesia sendiri candi Prambanan menjadi obyek wisata utama sebagai aset yang menghasilkan pendapatan daerah cukup banyak. Candi Prambanan dan Candi Sewu memang menjadi satu kesatuan tempat wisata, walaupun didalam obyek wisata candi ini terdapat candi-candi kecil yang berada di sekelilingnya seperti candi bubrah (bubar, rusak, ambruk), candi Lumbung, dan candi lainnya. Candi Prambanan sendiri terdapat 3 candi utama yang merupakan candi hindu seperti Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa.

Candi Prambanan

Candi Prambanan

Pada kebanyakan candi yang ada dijawa, dimana setiap candi utama selalu memiliki candi perwara (pendamping atau penjaga) yang ada disekelingnya. Ketiga candi inipun didampingi oleh candi lain yang berada tepat didepannya, yaitu candi Nandini pada candi Siwa, candi Angsa pada candi Brahma, dan candi Garuda berada di candi Wisnu. Selain candi perwara juga diapit oleh candi kecil yang merupakan bagian dari candi Trimurti dan candi-candi Wahana. Pada desian struktural, candi ini dikelilingi oleh candi perwara yang berjumlah sangat banyak, sekitar 224 candi.

Candi Prambanan Jogjakarta / Klaten

Candi Prambanan Jogjakarta / Klaten

Untuk berjalan di candi Prambanan sendiri memang cukup melelahkan, karena letaknya jauh dari tempat parkir, belum lagi untuk menuju candi Sewu yang ada di sebelah utara komplek wisata candi Prambanan. Menelisik penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Mundardjito sendiri candi komplek candi Prambanan sendiri termasuk dalam klasifikasi kelompok 1 yang mempunyai potensi sumber daya alam yang sangat tinggi. Inilah kenapa Candi Prambanan dan sekitarnya mampu memiliki candi yang begitu menajubkan.

Candi Sewu Prambanan

Candi Sewu Prambanan

Sementara candi Sewu (sewu = seribu) adalah candi yang bercorak budha. Keragaman candi yang saling berdekatan ini menunjukan pada zaman dulu  sudah tidak lagi terjadi kontra antar agama, dimana terjadi pernikahan antara Rakai Pikatan dan Pramordawardani. Candi Sewu sendiri merupakan candi budha tersebesar kedua setelah candi Borobudur. Dalam cerita legenda yang cukup terkenal, yaitu legenda Loro Jonggrang dan Bandung Bandawasa (Bondowoso). Untuk menuju candi ini harus berjalan sekitar 15 menit ke arah utara, atau dengan menaiki kereta rekreasi yang berada di depan candi Prambanan. Perjalanan yang memang melelahkan, terpaksa menaiki kereta saja, hingga berada di depan candi sewu persis dan diberikan sekitar 10 menitan untuk berkeliling mengintari dan sekedar foto-foto di candi Sewu.

  • Candi Plaosan Lor dan Kidul
Candi Plaosan Prambanan nampak depan

Candi Plaosan Prambanan nampak depan

Candi Plaosan #Lebih lengkap tentang Candi Plaosan, merupakan candi budha, yang terletak di bagian timur candi Prambanan. Ciri yang mudah di temukan dari candi budha adalah adanya stupa-stupa yang mengelilingi candi utama. Pada candi Plaosan saat ini memang hanya nampak candi utama saja yang masih berdiri, selebihnya merupakan reruntuhan cari candi-candi perwara. Yang menarik adalah candi ini berdekatan dengan candi Prambanan yang merupakan candi hindu. Candi Plaosan Lor (utara) dilihat dari penampakannya merupakan candi yang sangat besar kala itu, terlihat dari candi-candi perwara yang berjumlah hampir 100 perwara.

Candi Plaosan Kidul Prambanan

Candi Plaosan Kidul Prambanan

Berbeda dengan Candi Plaosan Kidul sendiri yang hanya berupa candi-candi kecil, sementara tidak ada candi utama. Belum tau apakah candi ini adalah candi utama atau memang merupakan bagian dari candi lain yang belum ditemukan. Pada saat melakukan perjalanan ke candi Plosan tidak ada pengunjung lain ditempat tersebut, hanya ada beberapa security yang menjaga di pintu depan dengan ramah. Sementara di area candi sepi, beberpa penduduk lokal sempat terlihat disekitar pinggiran candi untuk melakukan beberapa aktivitas pertanian dan pertenakan.

Candi Plaosan Kidul

Candi Plaosan Kidul

Parit Candi Plaosan juga masih nampak gagah, namun mandapa (mirip seperti pendapa / pendopo rumah joglo) hanya tersisa bagian pondasinya saja, padahal seharusnya ada bagian atap yang membuatnya nampak seperti bangunan rumah.

  • Istana Ratu Boko
Istana Ratu Boko Jogjakarta

Istana Ratu Boko Jogjakarta

Menuju ke selatan candi Prambanan, hanya sekitar 15 menit dari candi Plaosan melewati lagi pintu gerbang candi Prambanan yang tampak gagah dari jalan Solo – Jogja. Pasar Prambanan yang ramai menambah suasana akrab Jogjakarta, sebenarnya mau melihat candi kecil yang ada di belakang pasar Prambanan. Namun rasa penasaran terhadap candi ratu Boko lebih kuat, nanti saja setelah ke istana ratu Boko baru menenggok candi tersebut. Soalnya ada satu candi lagi yang sejalan dengan candi kecil tersebut.

Pintu Masuk Pendopo Istana Boko

Pintu Masuk Pendopo Istana Boko

Pertama kali mencari pintu masuk Candi Boko #Tulisan Lengkap Candi Boko awalnya masuk pintu yang terletak di jalan Piyungan, namun rasanya capek juga kalau masih naik tangga untuk ke candi Boko, belum ditambah jalan kali explorasi ke kawasan candi. Untungnya petugas karcis memberitahu, sebenarnya ada jalan lama yang mudah terjangkau dengan kendaraan langsung menuju depan pintu candi, namun agak jauh dikit. Jalan ini hanya sekitar 500 meter dari pintu tiket baru yang ada di jalan Piyungan ke arah selatan lalu ada jalan ke kiri (pinggiran sawah dan bukit), namun jalannya bagus (jalan aspal).

Dari pertigaan ini,  perjalanan melewati pinggiran bukit dan sawah lalu bertemu dengan perkampungan, mulai dari perkampungan ini belok lagi ke kiri hingga jalannya menanjak. Sekitar 5-10 menit saja sudah bisa berada di pintu tiket Istana ratu Boko. Sebenarnya komplek Ratu Boko ini bisa disebut candi, namun dari bentuk keseluruhannya komplek Ratu Boko lebih mirip Palace atau Istana besar. Dimulai dari gerbang hingga pelataran yang tidak mirip dengan desain candi kebanyakan. Beberapa memang ada ciri khas candi (stupa), namun tidak begitu melekat gaya arsitektur candi yang berfungsi sebagai tempat peribadatan.

Pelataran Istana Boko

Pelataran Istana Boko

Luas Istana Boko sendiri tidak tanggung-tanggung, sekitar 20 hektar, bisa bayangkan cukup jalan di Istana Boko sekaligus olah raga jogging yang menyehatkan. Belum lagi kalau menjelajah hingga ke gua-gua yang ada di kawasan ini. Untuk lebih memudahkan jalur perjalanan, saya memulai dari gerbang utama lalu berjalan menuju ruang pembakaran dan danau kecil yang ada didepanya. Setelah puas, perjalanan dilanjukan ke beberapa reruntuhan yang hanya tinggal pondasinya saja. Yang masih tersisa adalah pagar dan sebuah altar yang lebar yang berada di belakang komplek. Lebih lengkap bisa baca di # Istana Ratu Boko : Kemegahan di atas bukit.

Keputren Kolam Pemandian Istana Ratu Boko

Keputren Kolam Pemandian Istana Ratu Boko

Cukup melelahkan sekali, belum lagi menjelajah di sekitar pemandian istana yang berada di paling ujung Istana. Komplek yang paling ujung sendiri masih nampak reruntuhan dan ubin. Perjalanan mau menuju kesana, namun jalannya cukup terjal dan memang tidak difungsikan sebagai kawasan pengunjung. Akhirnya dilanjutkan di goa-goa yang ada di Istana Boko, goa ini sendiripun dibagi atas goa lanang (laki) dan wadon (perempuan).

Dilihat dari letak Istana Boko ini, termasuk kriteria 3 dimana letaknya kurang potensial sumber daya alamnya. Namun sepertinya arsitek Istana Boko ini telah merancang kekurangan tempat yang akan dibangunnya, seperti membangun kolam-kolam kecil yang ada di depan gerbang utama, dekat dengan tempat pembakaran. Dan sumber air di pemandian istana yang terletak di tengah-tengah bangunan. # Download Peta Candi Boko (pdf).

  • Candi Banyunibo

Banyunibo berasal dari kata banyu yang berarti air dan nibo yang berarti jatuh. Banyunibo lebih enak terdengar bukan air yang jatuh, namun lebih tepatnya menetes (air yang menetes). Dilihat dari bentuk candi ini sangat kelihatan kalau candi Banyunibo adalah candi budha, karena ada desain stupa kecil yang ada di atasnya. Dimana sih letaknya candi Banyunibo? Setelah selesai menjelajah Istana Boko, dan kembali ke jalur utama, Jalan Piyungan. Cukup ke arah selatan / arah kiri (Gunungkidul), hanya berjalan sekitar 100 meter, akan menukan pertigaan yang menuju ke kawasan candi kecil ini.

Candi Banyunibo

Candi Banyunibo

Candi Banyunibo cukup unik, bentuknya kecil seperti candi perwara pada umumnya. Tidak ditemukan candi-candi lain yang ada didekatnya. Susah juga menemuka candi Banyunibo, karena waktu itu sawah-sawah yang ada didepan dan samping bangunan candi sedang ditanami pohon tebu. Tempatnya sepi, karena memang bukan menjadi obyek andalan utama wisatawan. Hanya ada security yang setia menjaga bangunan warisan budaya tersebut. Untuk masuk ke candi ini hanya Rp. 2.000,- rupiah sekali masuk.

  • Candi Sojiwan
Candi Sojiwan Prambanan Klaten

Candi Sojiwan Prambanan Klaten

Setelah cukup menjelajah candi Banyunibo, dilanjukan ke candi Baron yang letaknya di atas bukit dekat dengan candi Banyunibo, namun Petualang harus memarkir kendaraan dibawah bukit dengan menitipkan pada warga setempat. Ada rasa penasaran terhadap candi yang ada di belakang pasar Prambanan. Candi itu bernama Candi Sojiwan. Letaknya tepat berada di tengah kampung Kebon Dalem, jadi memang agak sulit menemukan candi ini. Beberapa kali harus bertanya kepada warga yang ada disana.

Pemugaran Candi Sojiwan

Pemugaran Candi Sojiwan

Candi Sojiwan merupakan candi Budha yang terlihat dari stupa bagian atas candi, namun ketika kesana candi ini baru tahap pemugaran. Nampak scafolding bambu mengintari candi Sojiwan untuk keperluan pemugaran. Candi ini tidak sepernuhnya rusak total, masih bisa diperbagiki beberapa. Yang menarik juga, bawah ternyata di sekitar jalan dan pekarangan masyarakat lokal setempat banyak batu-batu candi yang dibiarkan begitu saja. Mungkin ini adalah reruntuhan candi yang entah dari mana asalnya.

BERSAMBUNG…

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 18 Mei 2013, in Perjalanan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. tulisan yang menarik :), keep blogging :), salam hangat dari tim ekspedisi candi indonesia, ekspedisicandi.blogspot.com ekspedisicandi.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: