Seperti Bumbu Dapur : Begitulah Kita

Perbedaan bukan untuk memisahkan dan membatasi, kawan. Seperti bumbu dapur, disatukan dengan rasa dan semangat. Diaduk dengan semua kekuatan yang mengelora. Dari satu rasa menjadi cita rasa yang disebut dengan persahabatan, persaudaraan.

Bumbu menjadikan makanan lebih terasa nikmat ketika mengulumnya dan terpesona ketika melihat. Sebagai dasar dari semua cita rasa yang disebut dengan resep. Resep inilah yang menjadi cikal bakal aroma dan rasa. Laksana bumbu dapur, yang bermacam karakter rasa dan warna yang menjadikan masakan lebih enak dinikmati dan menyehatkan.

Karakter bumbu adalah kisah tiap kita, kawan. Andai kita tau, seperti bumbu dapur saling melengkapi. Ada yang berkarakter seperti cabe rawit, gelora panas yang tinggi dan pedas kritik. Dibutuhkan dimana saja, bahkan engkau seperti menjadikan rasa menjadi lebih nendang. Ketika bumbu ini tak tersedia, sepertinya terasa ada yang kurang.

Seperti bumbu dapur garam. Memberikan rasa yang tak kalah nikmat. Mungkin kesendirianmu menjadikan banyak orang tidak memperdulikan, karena watak dan perilaku cenderung menolak. Bukan berarti engkau tidak dibutuhkan. Bumbu sederhana inilah yang membuat segalanya menjadi lebih nikmat. Setiap masakan pasti memerlukan garam. Karaktermu yang tajam memberikan dasar pesona bagi persahabatan ini.

Seperti bumbu dapur daun salam. Wajahmu yang kusut, bukan hinaan. Memang, tidak semua masakan membutuhkan bumbu ini. Namun tetap tenanglah, karena hanya masakan yang bernilai rasa tinggi yang membutuhkan daun salam. Tanpa daun salam, akan terasa tidak pengar dan harum. Setiap persahabatan membutuhkan karakter yang memberikan rasa.

Seperti bumbu dapur bawang. Setiap masakan pasti memerlukan bumbu sederhana ini. Bisa jadi engkau kembar, hanya wajahmu berbeda merah dan putih. Bumbu bawang yang membuat masakan lebih mantap, setiap penampilanmu kadang menjadi tangis banyak orang. Memang, dengan kau, persahabatan butuh kesabaran. Karena bila tidak, akan menjadi kepedihan di mata.

Seperti bumbu dapur gula. Wajahmu yang imut dan manis banyak disukai banyak orang. Karena watakmu menunjukan keiklasan. Bumbu dengan cita rasa yang kuat di lidah, dan mantap untuk terus digunakan. Bagi persahabatan, karaktermu pas untuk melegakan dahaga. Dimana kau berada, banyak orang menyambutmu dengan senyum bahagia.

Seperti bumbu dapur lada merica. Bentuk yang kecil tidak menjadikan sebuah rasa berkurang. Bahkan bertambah kuat rasa dan aroma dengan lada. Segala aksimu seperti memberikan keringat pada lawan, bahkan kau juga bisa membuat semua persahabatan larut dalam karaktermu yang keras dan hangat. Kecil tidak berarti menyerah, sepertinya semakin banyak karaktermu semakin persahabatan lebih terasa hangat.

Laksana bumbu dapur. Perbedaan bukan menjadi pemisah kita, namun menjadikan persahabatan lebih dari segalanya itulah persaudaraan. Justru perbedaan menjadikan kuat, bahkan perbedaan menjadikan kekeluargaan. Andaikan satu saja bumbu terkurangi, maka akan ada cita rasa yang tidak melegakan. Rasa dan watak seperti tidak bisa dipisahkan.

Perbedaan pulalah yang menjadikan nilai sebuah resep, semakin komplek sebuah bumbu semakin hebat pula rasa yang dikeluarkan. Sama dengan kita, semakin banyak karakter dan perbedaan seharusnya menjadikan lebih kuat dari sesuatu yang memisahkan kita.

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 15 Juli 2010, in Intisari and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: