Hanya Sebuah Persepsi..

“Kosong adalah isi, isi adalah kosong”, begitulah kata-kata salah satu film yang menarik yang di ucapkan salah satu tokoh didalamnya.

Hanya sebuah persepsi, dalam jarak ruang waktu tinggi dan lain sebagainya. Hampir-hampir sains adalah tidak absolut tanpa kepastian. Kita bisa mengatakan tinggi dan rendah karena dalam persepsi otak membandingkan dengan apa yang di imajinasikan. Boleh kita mengatakan kalau merapi pendek, tidak salah juga mengatakan kalo pohon belakang rumah adalah tinggi. Semua tergantung cara membandingkan dengan sesuatu yang lain.

Seperti jarak, hanya sebuah masalah persepsi dalam otak kita. Bisa jadi Semarang sampai Tegal dikatakan jauh, dengan membayangkan apa yang digunakan dan kapan waktunya. Bila memikirkan naik kereta Kaligung sekalipun, jarak terasa jauh karena rasa penat. Namun, bisa jadi Semarang sampai ke Batam dekat, karena mengasumsikan ringan dan senang. Ataupun sebaliknya.

Lebar dan luas, kita bisa mengatakan kotak kardus sepatu tidak terlalu lebar dan luas. Kemudian mengatakan lapangan sepakbola sangat luas. Namun itu lagi-lagi hanya sebuah persepsi, bagaimana menerjemahkan dan membadingkan dengan yang lain. Andai saja, membandingkan kardus sepatu yang dikatakan sempit dengan kardus korek api, maka kardus sepatu tidak lagi sempit tapi berubah menjadi sangat lebar.

Apakah kita yang berumur 20 tahun dapat dikatakan tua? Atau masih sanggup umur seperti itu dikatakan Anak Baru Gede? Hanya sebuah persepsi yang selalu membandingkan dengan yang lain. Banyak orang mengasumsikan dan melogikakan yang salah karena HANYA melihat dari SATU SISI, satu SUDUT.

Selama hanya melihat dalam satu sisi tanpa melihat dengan sudut yang berbeda dan satu lensa tanpa melakukan pembesaran zoom…yang terjadi hanya sebuah persepsi yang sama tentang sesuatu. Ketika banyak orang melihat hasil tanpa proses, yang terjadi hanya sebuah penilaian iya dan tidak.

Bila hanya melihat tanpa mendengar dan merasakan, maka yang terjadi adalah kebisuan. Ketika sebuah persepsi menjadi dasar, maka bisa menimbulkan fitnah. Ketika sebuah hati membaca dengan penglihatan yang biasa, maka itu hanya menjadi bias. Namun, bila kita bisa menerjemahkan dengan melihat dengan hati yang paling dalam, dengan merubah sudut pandang dan membesarkan lensa zoom maka banyak persepsi menjadi sebuah filosofi. Banyak tragedi buruk bisa ditekan, banyak resiko bisa di kurangi.

Andaikan kita mampu, melihat dengan sudut yang berbeda dan memperbesar zoom hati ini. Kita bisa merasakan kebaikan dari semua, bisa merasakan kebaikan dari Alloh swt. Bisa jadi apa yang kita persepsikan baik, namun bagi Alloh swt itu buruk. Atau sebaliknya, apa yang kita persepsikan buruk, namun sebenarnya ada kebaikan untuk kita di hadapan Alloh swt…

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 21 April 2010, in Intisari and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: