Kupu dan burung..

Sebuah renungan tentang keberadaan mereka..

Kupu, bagi kebanyakan orang hewan ini lebih indah dan menarik untuk dipandang. Beraneka warna sayap dan pola terbang membuatnya sangat eksotik. Kupu hidup hanya sekali kemudian mati setelah memperlihatkan keindahan sayapnya. Kupu terlahir melewati sebuah proses yang sempurna dari sesuatu yang berbeda tiap tahapannya.

Setelah lahir dari telur, lahirlah ulat yang bagi kebanyakan orang terasa geli atau jijik. Ulat ini mempunyai kebiasaan rakus memakan dedaunan di sekitarnya, tujuannya tidak lain meyiapkan ketahap berikutnya yaitu kepompong. Pada tahap pertapaan ini, kemudian lahir kupu yang indah. Kupu hanya memakan cairan yang berasa manis atau biasa disebut nektar.

Burung, bagi sedikit orang merupakan bagian dari penyuka hewan ini. Banyak burung yang disukai karena warna dan kicauannya. Hanganya bisa mencapai ratusan juta, tergantung keadaan burung. Burung bermacam jenisnya mulai pemakan daging sampai biji. Beberapa burung di manfaatkan untuk menyampaikan pesan rahasia ketika perang, dan sebagian hidup di sangkar. Bahkan ada yang memburunya hanya untuk kesenangan.

Burung lahir dari telur induknya, beberapa burung mempunyai sifat setia terhadap pasangan. Burung membangun sarang anaknya di ketinggian pohon atau bebatuan. Anak burung diberi makan sang induk dengan menyimpan di paruhnya kemudian memberikan langsung. Burung juga membangun sarang yang sangat aman dengan teknik luar biasa sedikit demi sedikit.

Kupu, lahir dengan kesempurnaan tahapan. Namun taukah, bahwa kesempurnaan itu terkotori dengan sifat rakus ulat yang memakan apa saja. Sifat tamak bisa menjerumuskan pada haus akan kekuasaan. Dalam pertapaan yang suci, kupu menghadirkan wjah baru yang lebih indah. Namun itu hanya sebuah kamuflase, keindahan hanya untuk dirinya sendiri tidak bagi telurnya nanti. Bahkan kupu mempunyai kebiasaan mewah, menghisap nektar dan hanya menghisap. Setelah habis, dia tinggalkan bunga itu.

Burung, Hidup dengan kesederhanaan. Burung terlahir di sarang yang biasa, dan memakan apa yang diberikan induknya. Ini simbol kesederhanaan dalam hidupnya. Burung ketika pagi terbang sangat jauh untuk mencari makan untuk anaknya, kemudian pulang petang. Ketika mendapatkan makanan, burung tak serta merta menghabiskan makanan. Induknya akan membawa makanan bagi anaknya,simbol penyanyang dan kesabaran. Sarang yang dibuat tinggi,merupakan bentuk kasih sayang pada anaknya agar tetap terlindungi ketika dia pergi. Dengan kesabaran tinggi, burung membuat sarang. Bahkan mengajari anaknya terbang untuk masa depan. Inilah kasih sayang yang sesungguhnya, bukan untuk dirinya namun juga bagi orang lain.

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 19 April 2010, in Intisari. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: