Bibit, Bobot lan bebet

Orang jawa dulu mengenal sebuah konsep mencari ‘mantu’ atau mencari jodoh bagi anak-anaknya. Konsep bagaimana agar sang anak tidak ‘cuwa’ ketika ‘diboyong’ meninggalkan jauh dr orang tua. Orang jawa mengenal 3 kriteria yaitu ‘Bibit,bobot dan Bebet’.

Bibit, dianggap sangat penting dengan melihat asal usul atau silsilah bagi generasi yg akan datang.
Konsep ini,adalah bahwa apabila orang dari turunan yang baik mestinya melahirkan generasi yang baik pula. Begitu pula sebaliknya dengan bibit yang tidak baik. Biasanya dilihat dari siapa bapaknya, kakeknya (kondisinya).

Bobot, dilihat dari keadaan calon ‘mantu’/pasangan. Keadaan yang dilihat seperti asal sekolahnya/lulusan, kerjaannya apa sekarang, posisi sebagai apa, tempat kerja mana, cantik atau tampan, punya cacat tidak dan seterusnya…

Bebet, dilihat dari harta ‘kesugihan’ sang mantu. Gajinya, kendaraan, dan seterusnya. Kekayaan itu juga dilihat dari kondisi harta orang tuanya.

Bagi kebanyakan orang,apalagi keluarga keraton, ‘Bibit bobot bebet’ masih memakai konsep ini.
Namun,tidak semua dipaksakan harus sempurna ‘plék’ semuanya ada.
Terkadang sang ‘moro tuwa’ bertanya pada sang ‘mantu’ dengan bahasa yang halus.. “Dimas, sekarang umur berapa?” atau “Le,sekarang kerja dimana?” dalam perkenalannya pertama kali.

Walaupun, hasilnya juga tidak selalu memuaskan seperti wajahnya ‘ayu’ tapi lulusan SMU atau si laki lulusan Universitas tp bekerja jualan barang bekas..

Bagi orang jawa, konsep ‘bibit bobot bebet’ sekarang ini tidak terlalu penting. Kalau sudah seiman islam dan saling mencintai,yaaa sudah janur kuningpun melengkung.

Namun, Kanjeng Rasulullah saw memberikan ‘wejangan’ bahwa wanita itu dipilih berdasarkan turunannya (bibit), hartanya (bebet) dan parasnya (bobot) serta agamanya.

Yang terbaik, pilih agamanya. Dasar inilah yg menjaga keduanya dan ikatan puncak spiritual antara mempelai dengan Gusti Allah yang terekam dalam janji keduanya (akad manten).

Tapi apakah ‘bibit bobot bebet’ tidak penting? Wejangan Kanjeng Rasul ditulis ketiganya dulu baru agamanya. Hal ini menunjukkan sebuah pilihan,boleh-boleh saja dilihat dari ketiganya dikarenakan itu penyejuk bagi keduanya dan orang tua…tp agamanya jangan lupa.

Ndilalah, para muda jaman sekarang sedikit banyak sudah paham bahwa ‘golek jodho’ itu yang utama islamnya dahulu…

Hmmm,syukur syukur

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 19 April 2010, in Ide and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: