Konfrontasi Indonesia Malaysia, Sebuah Catatan Akhir.

Pertandingan sepak bola Indonesia Malaysia kemarin (Ahad 26.12.2010 malam) benar-benar membuat marah sebagian besar masyarakat indonesia, dimana-mana dihujat. Pepatah mengatakan, air susu kena racun sedikit saja bisa menyebabkan seluruhnya beracun. Padahal hanya setetes racun. Sama dengan semua kasus yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia, hampir-hampir semua orang menjadi merah muka. Disadari atau tidak, semua terakumulasi dalam satu titik penghujatan dan perseteruan.

Padahal, kalau dinalar Indonesia dengan Malaysia sama-sama bermuslim. Sejarah mencatat, bahwa konfrontasi Indonesia Malaysia sudah dimulai sejak jaman dulu kala, lebay dikit. Bermula dari perebutan wilayah di daerah sewarak yang terjadi pada tahun 1962 hingga 1966. Waktu yang cukup lama untuk sebuah perang dingin. Konfrontasi ini berawal dari keinginan Federasi Malaya lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh PresidenSoekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai “boneka Inggris”. merupakan kolonialisme danimperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia Perang tersebut tidak hanya pada tataran elit tokoh negarawan saja, namun juga sampai pada masyarakat Indonesia dan Malaysia sendiri.

Perang yang tak berkesudahan. Dalam negara Malaysia sendiri terjadi gempuran terhadap Indonesia, dengan menyerbu KBRI (Kedutaan Indonesia) dan menyobek membakar foto Soekarno. Serta membawa lambang Garuda Pancasila untuk di injak oleh Tokoh negarawan Malaysia. Sementara aksi pembalasan Indonesia dilakukan dengan melakukan aksi ‘ganyang Malaysia’. Saat itu Soekarno dengan semangat mudanya memplokamirkan sebuah gerakan untuk menyerbu Malaysia yang pada akhirnya di ikuti oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Yang terjadi kemudian adalah perang berdarah yang tertumpah di Pulau Kalimantan. Tercatat hampir 2000 pasukan sukarela Indonesia meninggal dalam pertempuran yang tak seimbang karena Malaysia di bantu oleh Australia. Hingga Indonesia melakukan konfrontasi lebih dengan melakukan pendobrakan di wilayah Malaysia selam 68 hari. Walaupun sempat meredam ketika Soeharto mucul menjadi Presiden, namun konfrontasi Indonesia dengan Malaysia sepertinya tidak cukup berhenti sampai situ saja. Dimulai dengan kasus tapal batas antar negara dimana kedua negara saling klaim terhadap yang paling berhak menguasai wilayah tersebut.

Pada tahun 1970 terjadi perebutan pulau Sipadan dan Ligitan, dimana Malaysia dan dapat diredam dengan Persetujuan Tapal batas Laut Indonesia dan Malaysia, Namun pada tahun 1979 pihak Malaysia kembali membuat peta baru mengenai tapal batas kontinental dan maritim dengan serta merta secara sepihak membuat perbatasan maritimnya sendiri dengan memasukan blok maritim Ambalat ke dalam wilayahnya yaitu dengan memajukan koordinat 4° 10′ arah utara melewati pulau Sebatik. Tentu peta ini pun sama nasibnya dengan terbitan Malaysia pada tahun 1969, yakni diprotes dan tidak diakui oleh pihak Indonesia. Sebagai puncaknya adalah keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, dalam sidangnya pada tanggal 17 Desember 2002 yang memutuskan bahwa dalam kasus sengketa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, Indonesia dinyatakan kalah dari Malaysia, dan Malaysia berhak atas Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan dengan dasar efektivitas. Tidak sampai berhenti pada masalah perbatasan kedua negara. Perseteruan Indonesia dan Malaysia juga mendapat percikan api dari berbagai isu yang menjalar hingga menyebabkan meruncing kembali konfrontasi Malaysia Indonesia.

Beberapa pemicu yang sering muncul walaupun sedikit seperti beberapa kasus yang menimpa para TKW, Pembakaran bendera Malaysia, klaim Malaysia terhadap obyek seni dan busaya yang terdapat di indonesia. Sebagai gambaran yang sempat terekam adalah Reog Ponorogo, Batik, Lagu rasa sayange, musik gamelan, dan lain-lainnya. Perlu disadari atau tidak, ternyata warga Malaysiapun tidak perduli dan tahu menahu tentang klaim-klaim tersebut. Hmm, jadi memang perlu di chek dan re-chek ulang. Bahkan hubungan antara beberapa pe;ajar Indonesia di Malaysia baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah.

Banyak sangkaan, banyak kontrofersi, dan banyak pertanyaan mengenai semua konfrontasi Malaysia Indonesia sendiri. Banyak pihak punya kepentingan dengan semua ‘keuntungan’ yang terjadi akibat gesekan sejarah yang mungkin saja salah. Mungkin memang Malaysia yang berkeinginan menguasai sumber alam indonesia dan memperlebar wilayahnya ataukah inggris yang mempunyai kepentingan atas kemakmuran negara anggota commont wealth. Mungkin AS juga punya kepentingan dengan semua akses wilayah Indonesia yang mudah dan sumber daya alam indonesia yang tak mau kalah dengan negara ‘pesaing’, Inggris. Atau Indonesia sendiri yang mengupayakan semangat nasionalisme demi menjaga wilayah negara.

Semua hampir punya kepentingan, namun memang yang perlu untuk direnungkan adalah benarkah setetes racun dapat meyebabkan kematian? Semoga racun yang mulai masuk ke dalam nadi orang Indonesia dan Malaysia berkesudahan. Kalau saling mengolok-olok dan menjelekkan, kapan ini akan berakhir? Dan dengan apa ini akan berakhir? Dengan peperangan kah seperti yang terjadi di tahun 1970 yang menyebabkan banyak korban jiwa. Atau dengan percintaan pernikahan insan-insan kedua negara dengan semangat yang menyatukan.

Semua berawal dari sebuah komitmen untuk saling berbuat yang terbaik bagi orang lain, bukan untuk saling menjatuhkan. Terlepas dari siapa yang memulai, itu tidaklah terlalu penting untuk difikirkan. Seandainya saling meracuni satu dengan lain, niscaya semakin banyak toksin yang berada di setiap darah orang Indonesia dan Malaysia. Hingga satu atau keduanya saling membunuh dan terbunuh.

Untuk kita renung dan fikirkan..

  1. Jika kita terus beri gambaran bahawa orang itu bersalah, maka selamanya orang lain akan anggap orang itulah yang salah. Begitulah yang terjadi antara kedua negara ini. Jujur saja, Malaysia sering dituduh melakukan salah sampai hampir seluruh orang Indonesia menganggap Malaysialah yang salah. Padahal sejarah terbentuknya kedua negara ini sudah reka sedemikian rupa oleh penjajah British dan Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.254 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: