Jelajah Benteng Portugis, Di Ujung Jawa Tengah (Sebuah Refleksi Situs Sejarah).

Pintu masuk benteng portugis

Pintu masuk benteng portugis

Pertama kali menjelajah, ini adalah salah satu yang membuat saya penasaran. Ya tempat ini disebut Benteng Purtugis, yang ada di kabupaten Jepara. Ketika itu perjalanan begitu sangat terasa lama, mungkin itu hal yang sama dirasakan pertama kali orang berkunjung di situs budaya dan sejarah ini. Benteng Portugis terletak di kecamatan Keling, sekitar 60 km atau 1,5 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata 70km/jam dari pusat kota Jepara. Jalan lumayan praktis dan mudah hingga ujung kecamatan Keling, namun untuk menuju Benteng ini memang paling ringkas menggunakan kendaraan pribadi.

Komplek Benteng Portugis

Komplek Benteng Portugis

Cukup mudah terjangkau kendaraan dan tidak terlalu rumit apabila hendak dicari, letaknya benar-benar di ujung propinsi Jawa Tengah. Memang sih, lebih ujung pulau Karimunjawa dari pada benteng ini. Benteng Portugis ini tak seperti yang dibayangkan, begitu menurut pribadi. Dalam benak saya, benteng itu layaknya sebuah dinding besar yang kokoh dengan balutan tempat senjata dan meriam disetiap sudutnya. Lalu di atas paling tinggi terdapat tempat pengintaian dan tentara bersiaga. Bagaimanapun juga, benteng portugis merupakan benteng tua yang pernah ada, dengan teknologi yang ‘cangih’ pada masanya.

Benteng ini hanya sebuah bangunan kecil yang tersebat disekitar bukit. Pada bagian atas bukit, merupakan benteng yang utama dan paling besar. Jalanan menuju ketempat ini perlu ekstra hati-hati karena jalanan aspal dengan hiasan lubang di beberapa titik jalan. Benteng ini simple saja, dengan dinding sekitar 2-3 meter plus meriam yang menghadap ke arah laut. Sewaktu kesana, perawatan situs sejarah ini teramat menyedihkan, bukan membuka keburukan. Namun penataan dan perawatan tidak selayaknya mendapat nilai bagus. Terkesan kumuh dan tak terawat, terutama bagian situs dan fasilitas kamar mandi.

Sisi Benteng Portugis

Sisi Benteng Portugis

Pohon-pohon rindang dan semak belukar tanpa pembenahan menjadi hiasan yang menutup komplek benteng utama. Dedauan terjatuh mengotori hampir sebagain komplek tua ini. Okelah, lupakan sejenak masalah perawatan. Kembali ke situs benteng Portugis, untuk menuju ke komplek benteng yang ada di atas ada 2 cara, pertama berjalan kaki melewati sebelah kanan bukit atau naik dengan kendaraan roda 2 (rekomendasi) dari sebelah barat benteng. Dari atas benteng ini nampaklah lautan yang sangat luas terhampar di ujung mata. Apalagi kalau pepohonan yang tidak berguna, dipangkas seperlunya untuk tujuan wisata.

Mandalika Jepara

Mandalika Jepara dari Benteng Portugis

Benteng ini sebenarnya hanya sebuah bukit kecil dengan jalan yang melingkar dibawahnya bertemu satu sama lain. Kalau petualang berjalan dari sisi barat bukit, nanti berjalan mengelilingi bukit dan bibir pantai pada akhirnya akan bertemu dijalan yang sama. Pada ujung bukit dibawah, terdapat meriam dan sebuah benteng kecil yang terletak dibagian barat, persis berhadapan dengan laut. Selain benteng bersejarah, yang menarik lainnya adalah bebatuan karang kokoh yang menjulang menahan ombak laut. Dengan pemandangan pulau Mandalika didepannya.

Pantai Guamanik Jepara

Pantai Guamanik Jepara

Pada sekeliling bukit kecil ini terdapat jalan yang bagus, hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda 2. Untuk roda 4 hanya bisa sampai pada tempat parkir didepan, kecuali dengan notifikasi tertentu bisa masuk ke area wisata. pohon rindang yang ada di sebelah bukit timur nampak sangat menarik, ditambah dengan pemandangan pantai pasir plus kapal-kapal nelayan yang singgah setelah berlayar mencari ikan. Pemandangan yang luar biasa.

Bukit Benten…Portugis

Bukit Benten…Portugis

Untuk harga tiket ketika tulisan ini dirilis perkepala dikenakan biaya sekitar Rp. 3.000,-, cukup murah. Sudah banyak warung-warung kecil yang ada di sepanjang jalan di sisi bukit, menyediakan aneka jajanan sederhana. Jadi ndak usah khawatir lagai kalau pas jalan kaki naiki bukit tiba-tiba rasa lapar dan haus terasa. Harganya mumer alias murah meriah. Petualang bisa juga bermain ombak di pantai tersebut, wisata sejarah dan wisata pantai sekaligus. Pantai yang ada di sebelah benteng Portugis ini bernama Pantai Guamanik Pecatu.

———————————————————————————————————————————————————————

Sedikit ulasan ringkas tentang Benteng Portugis dan Pantai Guamanik, sekilas memang membangakan. Bahwa ternyata di ujung pulau propinsi Jawa Tengah ini masih ada situs peninggalan bersejarah. Ketika saya bertanya pada pengelola benteng portugis menanyakan tentang sejarah berdirinya benteng ini, ternyata tidak ada referensi yang pasti terkait kapan, untuk apa benteng ini, dibangun oleh siapa, tahun berapa, dan lain-lain. Memang tidak bisa disalahkan, karena pengelola hanya “mengelola” tidak berkewajiban mengerti dan tau tentang situs bersejarah ini. Lalu, pertanyaan saya, apa yang hendak diwariskan dari anak cucu suatu saat nanti?

Perlunya menyediakan semaksimal mungkin informasi tentang situs sejarah di benteng portugis, termasuk situs-situs bersejarah yang lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Informasi situs sejarah menjadi penting, menurut saya, kerena dengan mengetahui sejarah maka menjadi pengingat bahwa dahulu ada proses yang luar biasa di tempat tersebut. Bukan malah menuliskan dongeng dan kisah mistis yang ada di situs bersejarah saja, namun perlu menulis bagaimana sebuah situs bersejarah itu terbentuk. Apakah harus bertanya pada “juru kunci” tempat tersebut hanya untuk sekedar tau? Bagaimana kalau orang yang tau sejarah itu sudah meninggal? Bisa saja diwariskan kepada orang lain tapi saya yakin sedikit banyak informasi telah hilang.

Beberapa obyek wisata bersejarah juga tidak maksimal pengelolaannya. Yaa mungkin saja terkendala dana yang sedikit sehingga mengesampingkan bagaimana pengelolaan yang baik dan berguna. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah kalau memang berani dan mau berusaha. Di Seluruh Indonesia, saya yakin banyak situs bersejarah yang belum maksimal pengelolaan dan perawatannya, walaupun saya sendiri belum pernah kesana menjelajah berpetualang. Yang terjadi akhirnya banyak kecurian bagian penting dari cagar budaya, situs purbakala, dan roboh tidak berguna. Baru sadar kehilangan bagian dari situs purbakala, seketika banyak yang berkoar-koar, jadi dulu kemana saja?

Berapa banyak arca dan benda-benda purbakala dicuri hingga sekarang? Menjaganya, merawatnya, mengelola dengan baik adalah tugas semua orang dengan bantuan birokrasi pemerintah yang baik dan bijaksana.

About Alif Kecil

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti.

Posted on 2 Januari 2013, in Perjalanan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.254 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: